Gue berpikir sebenarnya sial itu darimana? Dari kita? Orang lain? Atau dari sepupu punya sepupu punya sepupu punya sepupu punya sepupu punya cucu?
Tapi, sial juga tidak selamanya buruk. Buktinya, gue pernah ketika masih TK gue padamkan api dengan cara sableng coy. Pake tangan, ujung-ujungnya gue nangis sampai nyokap gue yang berada di pinggir jalan mendengar jeritan kuntilanak gue dan menghampiri gue.
"Kenapa nak?"
"Ini ma, atit" (biasa, anak TK belum tau tata bahasa)
"Coba liat"
Gue perliatkan tangan gue dan nyokap gue ke dapur dan balik lagi dengan membawa botol kecap. Nyokap pun menaruh kecap tersebut ke luka bakar gue hingga tangan gue menjadi sate tangan yang siap dibakar di pemanggang yang panasnya bersuhu 129°C. #calontukangsate.
Karena gue ngiler liat tangan gue sedikit hangus dan dibumbui kecap ABC, (serius) gue gigit tangan gue. Spontan saja gue menjerit kembali, tapi dengan naik 1 oktaf. Lo tau gak hikmah dari cerita diatas? Hikmahnya itu yaitu bahwa walaupun tangan dan daging sama-sama dapat dibakar, tetapi rasanya tidak pernah sama dengan kenyataannya.
Tidak masuk akal kan hikmahnya? Gue sengaja kasih hikmahnya absurd agar kreatif sendiri buat hikmahnya. Kan gue orangnya lebih idealis ketimbang realistis.
Tapi sial yang benar-benar mengubah hidup gue yaitu ketika gue kelas 4 SD. Ketika teman gue Nirwa, sakit (gue lupa sakit apa) dan dirawat di RS di kota gue. Kita sekelas berencana jenguk dia. Tapi, masalahnya tidak mungkin kita masih SD sudah bawa motor kesekolah dan sepedapun yang bawa tidak cukup setengah dari populasi kelas gue. Gue pun bertanya ke teman gue, July.
"Ehh. Kan loe punya mobil di rumah. Kenapa tidak tanya orang rumah saja?"
"Iya juga sih, tapi apa ada orang dirumah gue. Gue coba saja"
Ternyata tebakan shio gue benar...eits, maksudnya perkiraan gue. Si July pun meminta keluarganya bawa mobil dirumahnya. Kita pun bersiap-siap ke rumah sakit dimana Nirwa dirawat. Tapi, sialnya perut gue kagak kerja sama dengan gue. Gue pun meminta July menunggu selama gue selesai berurusan dengan "kampung tengah".
"Ahhh... lega..." sambil gue memegang perut gue. Ketika gue menuju kelas gue, gue kaget. Teman-teman gue dan juga si July tidak ada. Tiba-tiba saja ada guru agama gue disebelah dan gue bertanya.
"Permisi bu, mau nanya. Kenapa disini sepi bu?"
"Ooohh...kata July mereka pergi menjenguk Nirwa di rumah sakit tadi baru jalan, memang tidak ikut juga jenguk? Kan teman sekelas."
CTAAAAAR!!! gue shock mendengar info tersebut. Mana gue kagak shock, teman kelas gue sendiri telah PHP-in gue setelah memberi kepercayaan menunggu. Dengan terpaksa dan niat baik menjenguk gue naik sepeda gue menuju RS.
Rintangan pertama gue menuju RS yaitu banjir (semalam hujan nonstop 5 jam kagak berhenti). Gue terobos dengan seragam sekolah gue. Tidak tau gue terlalu gesit atau terlalu rabun, gue nabrak saluran pembuangan. Dan tentu saja, gue pun spontan untuk sementara jadi superman tetapi hanya sekian detik, dan akhirnya gue mendarat tepat di saluran yang gue tabrak. Gue pun berdiri dengan keadaan habis mandi. Gue pun tidak putus asa, gue pun melanjutkan perjalanan gue menuju RS dengan seragam seperti bak air setengah penuh (maklum, SD belum tau malu). Gue pun sampai di RS dan gue langsung nyari kamar dimana Nirwa inap.
Tapi sudah jatuh ketimpa tangga pula. Gue baru datang dan mengatakan
"semoga cepat se..."
"Yaa, anak-anak kita sekarang kembali ke sekolah"
"YA PAK GURU..." sambil pamit ke nirwa dan ortunya.
"Akhyar, kau juga harus ke sekolah"
"Tapi pak...."
"Tidak ada tapi-tapi. Harus sekarang"
"Iya pak..." gue jawab dengan perasaan drop.
"Tapi, kenapa seragammu kotor dan basah? Bukannya sama-sama dengan teman-temanmu?"
"Tadi saya belajar berenang"
"Sembarangan saja, pamit ke Nirwa dan kembali ke mobil."
"Iya pak..."
Gue pun pamit ke Nirwa dan kembali ke parkiran sepeda gue dan gue di PHP-in yang kedua kalinya. "SIALAN LOE JULY! KALAU GUE KETEMU LOE GUE BIKIN LOE JADI MAKANAN KUCING GUE!!!" Gue teriak dalam hati.
Gue pun kembali ke sekolah dengan rute yang lebih aman. Gue sampai disekolah, gue istirahat sebentar dan gue melihat July dari kejauhan. Gue pingin gampar tuh orang karena telah PHP gue. Ketika gue mendekat, July pun mengatakan
"Makasih ya bro kasih ide ini, gue berhutang ke loe bantuan. Kalau loe misalnya tidak beri ide ini, mungkin gue kagak menjenguk Nirwa sampai dia keluar RS"
Spontan semua hal negatif dari gue ke July hilang. Gue seperti merasakan seperti pahlawan siang hari. Tapi gue bingung juga kenapa dia mengatakan kata-kata seperti itu ke dia, atau jangan-jangan..... mereka sedang..... lupakan.
Mungkin sejak itu setiap kesialan yang gue rasakan gue anggap itu adalah "kekuatan" gue. Gue tidak pernah menganggap sial gue adalah musuh gue. Justru sial adalah kehidupan gue.

0 komentar:
Posting Komentar
Bagi anda berkomentar di blog ini mungkin tidak berguna. Tetapi bagi kami para Blogger, komentar anda dapat menjadi inspiratif dan pengoreksian kami. jadi, sempatkan tinggalkan komen walau 1 atau 2 kata.