Minggu, 22 September 2013

The revenge of the buluk bike

What's up everyone? Gue balik lagi ngepost pengalaman gue. Gue sekarang anggota INSOS (masih dicari kepanjangannya) yang bertugas mendukung dan berusaha menyatukan pasangan yang sedang kasmaran dengan semangat. Saking semangatnya kadang terjadi BENCANA. Baiklah, back to the saitop. Kali ini pengalaman yang cukup sial buat gue karena telah selingkuh dengan milik orang (baca: motor orang). Ketika ngapel malming. Gue pertamanya sih belum percaya yang namanya karma, sampai gue jilat dan merasakannya sendiri karma motor dan gue pun kapok.

Karma itu gue dapat ketika gue masih kelas 1 SMA. Ketika itu gue sehabis sekolah, gue melihat benda besar warna putih di dalam garasi rumah gue, gue berpikir kagak mungkin ada orang naruh kolor putih satu kardus besar buat setahun apalagi di garasi rumah gue. Ternyata dari dekat adalah motor om gue. Gue nanya bokap gue.

"Itu motor mana pemiliknya pak?"

"Ada keluar entah kemana"

Gue pun nyusun rencana jahat buat ngeculik itu motor dan gue putuskan ngelepas motor gue buat malam mingguan. Padahal gue memiliki pengalaman dengan motor gue.

Pengalaman pertama ngebawa motor milik gue yaitu ketika gue bersama teman gue, bayu (bayu t.j) orang pertama yang gue antar dan korban pertama yang nyaris jadi korban "kegoblokan" gue bersama motor gue. Kegoblokan itu terjadi gara-gara gue sok tau bawa motor milik gue (kalau bebek sih gampang, tapi ini motor besar coy. Dan motor besar pasti identik dengan yang namanya kopling, dan untuk orang yang pertama ngebawa motor besar di jalanan yang kejam pasti berhasil ngelindas satu atau dua orang). Gue pun nyaris ditabrak sama mobil dari belakang, tapi sayangnya teman gue keserempet motor, untung masih jauh dari nyawa, cuman kena kaki doang. Tapi berkat kebanyakan skill  itu, gue pun menambah korban penumpang gue seiring waktu. #bangga

Oke, kembali lagi ke rencana gue semula. Karena kebetulan gue ada les, langsung saja gue ambil kunci motornya dan segera menghilang. 

Gue pun dtg dengan gaya kece abis. Pake helm bokap gue, baju yang paling jarang gue pakai,celana levis gue yang belum dicuci 2 minggu (serius, gue orangnya hemat sabun cuci) dan tidak lupa, parfum 1 botol. Sehabis gue nyemprot sampai habis, kucing gue muntahin makan paginya karena yang gue semprot ternyata insektisida.

Teman les dan sekelas gue, angga datang dan langsung nannya ke gue.

"CIIIEEEHHH MOTOR BARU!!!"

"Enggak kok, ini milik om gue"

"Minjem ya?"

"Enggak, gue cuma tukeran motor sampe minggu"

"Itu sama saja dengan minjem bego"

Selama les berlangsung, gue selalu berpikir macam-macam tentang motor om gue, dari bagaimana rasanya kalau laju, suara knalpotnya jika laju  bagaimana, apakah ikan punya lubang hidung hingga kenapa orang boker itu duduk atau jongkok. Tidak pernah boker sambil berdiri.

Setelah selesai les, gue sama angga setuju muter jauh buat pulang. Dan disinilah dendam motor gue yang kagak diajak jalan keluar. Ketika di tengah kota, tiba-tiba motor om gue mati tepat ditengah-tengah jalan. Serentak saja pengemudi motor dibelakang gue keluarin bahasa setan sampai isi dalam kebun binatang ragunan keluar. Gue dan angga pun terpaksa mendorong motor ke emperan toko bagaikan mendorong sapi. Setelah diusut dri ujung atas hingga bawah gue temukan masalahnya.

"Angga, gue tau masalahnya"

"Emang apaan?"

"Ternyata om gue kagak isi bensin"

"What? Kita sudah dimaki ditengah jalan cuman gara-gara loe kagak beli bensin!!!"

"Gue kan kira ini motor udah dibelikan bensin, liat aja tuh indikator bensin, dalam keadaan 99999 liter"

"Ehh... goblok tu jangan dipelihara. Itu indikator pada rusak gitu. Mana mungkin ada bensin terisi 99999 liter di motor kecil gini. Loe pikir apa? Mobil tangki?" Dan blablablabla....

Gue pun cuma bisa menahan siksaan suara di telinga gue. Gue pun melihat setitik pencerahan di pinggir jalan. Ternyata yang gue liat benar-benar pencerahan (baca:lampu) kios menyediakan bensin. Yap, GAS dude. Gue seperti mendapat emas seberat 1 ton di sebuah tempat angker nan gelap.

Gue pun menangkis siksaan suara angga dgn 2 kata.

"Ada bensin!!!"

Dia pun berhenti dan

"Baguslah. Sekarang gue beli dan loe kasih uang"

Setelah gue beri uangnya, angga pun cabut dan langsung membeli 2 botol bensin. Gue pun senang karena ternyata cuman bensin doang yang menyebabkan kesialan panjang ini. DAN, ternyata the curse of the uncle bike still have.

Besok malamnya, kebetulan teman gue, gabriel gue anter dia les di tempat les (ya iyalah, orang les itu di tempat les) sekalian buat pantau make motor om gue, gue pun harus dengan terpaksa nunggu di luar hingga semua selesai les, kebetulan gue ketemu teman SMP gue dulu.

"Ini motormu ya?"

"Yoman (yang artinya iya)" gue jawab dengan santai. Padahal gue tipu dia jarak jingkal dan dengan gaya like a crazy boss.

Setelah selesai gue antar gabriel di rumahnya dan gue balik rumah. Tapi, sialnya gue sampai rumah, bokap nyokap sedang ngapel dengan mengunci pagar rumah. Gue juga lupa kalau kunci pagar gue bersama-sama dengan kunci motor buluk gue. Gue pun duduk gembel di teras rumah gue. Karena lama amat ortu gue datang, gue terpaksa jalan lagi nyari makanan karena kampung tengah sedang demo.

Gue pun mulai cari di ujung kota dan gue pun tidak tau bahwa kutukan mendekatiku. Setiba di lampu merah, secara instan motor om gue BENAR-BENAR MATI (padahal gue sudah beli bensin rp.40.000 untuk mencegah masa lalu pahit). Gue pun dorong motor seperti kemarin, tapi dengan versi gue sendir. Gue nyari masalahnya, tapi gue belum juga nemuin. Gue belum nyerah juga (karena jika nyerah gue akan tidur di emperan toko seperti gepeng pertama yang ngemis pake motor besar yang kagak mau hidup), gue telpon kakak gue.

"Ja, loe dimana?"

"Di bos (baca:pacar) punya rumah"

"Loe bisa dorong gue di toko *** karena motor om gue mati"

"Halo, apa tadi loe bilang?"

"Dorong motor gue"

"Sory, apa?"

"DORONG MOTOR GUE!!!" Stres meter gue mulai naik.

"Ohh, bilang kah dari tadi"

"GUE SUDAH BILANG DARI TADI !!!"

"Gue cuma bawa kunci pagar, kalau kunci rumah gue kagak bawa"

Hiyaahh. Hebat juga yang dilakukan kotoran telinga yang kagak dikorek 3 tahun.

"BUKAN KUNCI RUMAH, ORANG!!! TAPI DORONG GUE!!!"

"Halooo,,, tadi apa yang loe.....pip pip pip" dan setelah putus telpon, gue mendengar suara cewe cantik di HP gue dan dia berkata

"Maaf, anda tidak dapat melakukan panggilan ini karena pulsa tidak mencukupi, pulsa anda tinggal 10 rupiah"
Gue pun stres.

Gue tidak tau harus apa lagi. Akhirnya dengan didorong oleh keinginan luhur, dengan ini gue sukses HARUS mendorong motor om gue sampai rumah gue. Tidak jauh juga sih, paling 10 Km-an lah. Gue mulai dorong melalui jalan sepi karena gue masih waras dan urat malu tidak putus. Ketika beberapa meter dari tempat start dorong motor, ada anak kecil yang nanya gue.

"Om motor kenapa?" Tanya anak kecil itu dengan polos.

"Tidak tau juga dek, tiba-tiba mati"

"Kasihan sekali om"

Serius, apakah muka polos yang masih belia begini pantas dipanggil om sekarang? Dan gue sedikit terharu juga karena ternyata masih ada orang yang masih mengasihani penderitaan gue. Anak kecil itu pun belok kiri dan masuk ke rumahnya dan gue kembali sendiri melanjutkan dorong motor. Gue belok kanan, gue liat sepasang kasmaran sedang pacaran di atas motor. Gue sedikit iri juga sih, kapan gue kaya gitu. Tapi keirian gue lenyap semua karena gue liat pemandangan yang menghiasinya juga sangat tidak sinkron, yaitu kuburan cina.

Gue sambil dorong motor sambil berpikir juga, taman kota bukan tempat bagus ya? Makanya memakai kuburan cina sebagai alternatif. apakah gengsi atau mencari hal baru atau kantong mereka kering keronta karena hanya mau tempat luxury bukan yang tempat ELIT (Ekonomi suLIT)? Gue tidak tau. Gue jalan (sambil dorong motor juga) gue liat ada bengkel buka, gue mau mampir tapi gue ingat gue cuman punya uang rp.1000 doang. Jadi, good bye bengkel...

Gue lanjutkan dorongan gue hingga sampai di rumah gue dalam keadaan utuh. Gue langsung masuk ke rumah dan bokap gue pun nanya.

"Memang darimana pulang larut begini?" Tanya bokap gue sambil gue liat jam didinding hampir menunjukkan jam 23.00

"Habis olahraga malam" jawab gue dengan sedikit  ngos-ngosan

"Maksudnya?"

"Dorong motor dari toko ***"

Setelah gue berkata begitu, ortu gue tertawain gue. Sempurna sudah penderitaan gue dari motor mati  hingga di rumah ditertawain.

Besoknnya gue kembalikan motor om gue dan dia bilang.

"Kalau motor ini mati pasti karena giginya berada di 3, dan tidak akan menyala  jika belum netral. Berarti kau mendorong motor ini sejauh itu?"

Gue cuma bisa ngangguk pelan.

"Tidak apa-apa, olahraga sedikit too..." sambil om gue senyum.

Gue pun  kembali memakai motor buluk gue kembali dengan bahagia. Sejak saat itu, gue pun kalau mau minjam motor, gue liat baik-baik sebelum meminjamnya. Gue pun sudah kapok narsis pake motornya orang karena pengalaman ini. Kalau gue liat orang-orang lewat dengan bangganya memakai motor bagus ngebonceng pacarnya, gue cuma punya satu pertanyaan. Apa hati loe juga bagus seperti motor loe?

See you in the next experience :D