What's up guys!? I'm back. Gue sekarang pingin kurus. Yap, gue sedikit obesitas. 2 tahun lalu berat gue sekitar 80 kg, kalau sekarang gue kagak tau karena gue paling ANTI PENIMBANG BERAT BADAN. Gue juga tidak tau, kenapa gue paling alergi sama benda rata itu. Mungkin karena bentuknya menghina gue (karena bentuknya rata) atau juga karena "terlalu jujur" (karena "dia" adala mesin. Bukan manusia yang suka bohong). Gue sampai sekarang mulai olahraga rutin semenjak suatu hari gue kedokter akibat perut gue entah kenapa sakit bukan yang biasa mules dan akhirnya ke wc dan mengeluarkan pup seperti menghayati Ode to joy symphony milik Beethoven. Dokter belum konfirmasi bagaimana penyakit gue, akhirnya gue disuruh ke lab untuk uji darah dan "feses" gue. Serius, gue sering menghindari tokai sekarang harus mengambilnya dengan alat seperti sekop kecil dan harus dimasukkin ke dalam toples. Itu hal terjijik yang gue lakuin selain striptease di perempatan lampu lalu lintas. Ok, gue tidak mungkin lakuin hal itu.
Dokter pun mengatakan penyakit gue setelah ngetes darah dan pup gue di lab.
"Baiklah, saudara akhyar. Anda sepertinya baik-baik saja. Tapi apakah pernah pantat anda gatal?"
Gue dengan kepolosan menjawab "iya dok, memang kenapa?"
"Anda sepertinya terkena penyakit cacing kremi."
Gue gak tau penyakit apaan itu. Yang jelas penyakit itu ngebuat gue "cacingan".
"Sebenarnya penyakit itu cukup lucu juga" sambil sedikit terkikik si dokter.
Gue hening.
Gue masih bingung kenapa penyakit tersebut ngebuat gue dikedekin sama orang yang paling dituruti selain ortu dan guru gue sendiri. Sejak saat itu pun gue mulai olahraga. Dari olahraga tangan (main game) sampai olahraga ketenangan (tidur). Tapi, gue mulai olahraga berat seperti lari. Walaupun badan gue sebesar bola basket yang gagal produksi, tetapi gue juga pingin badan seperti punya jempol kaki Muhammad Ali. Hal yang gue lakuin pertama adalah pemanasan agar gue kagak terkilir akibat lari. Kemudian mulai start dari jalan besar.
Karena kebegoan gue dalam olahraga dan tidak mampu jantung gue. Guepun hanya bisa lari sekitar 30 meteran. Karena jantung gue kagak mampu lagi menderita, akhirnya gue jalan dari bandara muter ke tengah kota terus lewat jalan besar hingga sampe ke rumah gue. Itupun gue sudah ngos-ngosan karena jika dihitung sekitar 1 km dari rumah muter kota. Gue mulai lari kembali dan akhirnya gue benar kagak mampu dan berujung hampir jantung gue pulang ninggalin gue.
Selain lari, gue juga olahraga tenis. Gue pengen main tenis karena bokap gue adalah pemain tenis veteran menurut gue. Buktinya, kalau main tuh jarang amat kalah, suka suruh gue sering main tenis dan dapat membawa mobil (kagak nyambung amat bawa mobil sama main tenis). Setiap minggu pagi sekitar jam 4 gue pun sudah mulai bangun. Tapi gue dirayu sama kasur akhirnya bangun jam setengah 5. Karena kakak gue, Irja juga pengen main, jadi kita berdua jalan bersama pakai motor gue.
Ketika sampai bokap gue masih bermain kartu remi dengan orang lain sambil menunggu giliran main. Cukup cerdas juga. Selain olahraga tubuh. Kita juga bisa berolahraga pikiran. Karena cukup membingungkan cara mainnya. Yang jelas, yang menang jika nilai kartunya kecil atau kartunya habis. Setelah penantian yang panjang. Gue akhirnya bersama kakak gue bisa main. Bokap gue pun ninggalin kunci lapangan ke kami berdua karena mau pulang. Sebuah tindakan yang salah, karena kita berdua dengan bangganya memukul bolanya hingga keluar lapangan sebanyak 5 kali. Kita tidak mungkin bisa ambil karena terlempar diantara perumahan penduduk. Bayangkan saja ada orang yang pengen makan bakso tenes mendadak ada bola tenes dimangkok dan sambil sujud syukur dan memakannya dengan lahap.
ketika kita berdua mulai jalan pulang, tiba-tiba saja kakak gue melihat anak kucing.
"Ehh, ambil tuh anak kucing" gue pun ambil
"Baru kasih makan apaan kalau kecil begini?" Sambil gue pegangin si kucing yang teriak-teriak minta tolong dikirain mau dibuat nasi kucing.
"Sudah, nanti dikasih coba air putih" kata kakak gue mantap.
Gue hening.
Kirain mau dikasih susu atau ASP (Air Susu Pria). Ternyata aer putih doang.
Ketika sampai dirumah. Kita pun menaruhnya dalam kardus (gak bermodal memang) dan dia (kucing) mulai teriak-teriak lagi. Bokap gue pun nanya.
"Eh, itu anak kucingnya siapa? Yang putih kah?" Sambil liatin kami berdua dan kucing putih disebelah gue.
"Ehhh... iya" kata gue sambil nyari alasan.
"Oohh kirain kalian ambil dijalan lagi" sambil bokap gue ninggalin kita.
Untung bokap gue kagak tau kalau gue memang benar-benar ambil dijalan.
Iya, gue dulu pernah ngambil kucing di pinggir jalan dan akibat itu gue pun dilarang ngambil kucing dijalan lagi akibat kucing yang gue ambil mati mengenaskan.
Ok, back to the story. Sampai sekarang gue menulis postingan ini gue masih rajin berolahraga dan entah gue belum juga rasain "efeknya". Tapi, teman-teman gue sudah bilang kalau gue sudah tambah "kecil". Entah memang akibat gue sering olahraga atau mata mereka yang bertambah minus.
Gue juga pernah olahraga sepedaan sama teman gue, Astary bersama sepupunya entah siapa namanya. Ketika gue pulang secara mendadak gue gak bisa ngerasain titit gue. Gue selama perjalanan pulang pun sedikit panik. Apakah gue akhirnya dikutuk Nyokap gue menjadi Cewe yang suka ngupil di kerumunan orang atau titit gue akhirnya berhasil pergi dari gue. Setelah gue pulang, hal pertama yang gue lakuin yaitu kekamar dan istirahat setelah menyadari gue cuma kesemutan karena jarang naik sepeda.
Sekian postingan gue, gue ngerasa olahraga sebenarnya bukan sebuah keharusan. Melainkan kewajiban buat kita agar kagak kena penyakit yg umum seperti PUSKESMAS (PUSing KESeleo dan MASuk angin) sampai penyakit elit seperti jantung, paru-paru dan juga penyakit kanker. Selain mendapat kesehatan, secara tidak langsung kan kita "mempromosikan" diri agar kagak jomblo selamanya #salam jomblo guys.

0 komentar:
Posting Komentar
Bagi anda berkomentar di blog ini mungkin tidak berguna. Tetapi bagi kami para Blogger, komentar anda dapat menjadi inspiratif dan pengoreksian kami. jadi, sempatkan tinggalkan komen walau 1 atau 2 kata.